Selasa, 12 Februari 2013

DELIMA



Hari ini aku pulang terlambat karena menemani Delima, sekalian menjalankan tugas dari Pak Tarno untuk mengawasinya menjalankan hukuman. Delima terlambat lagi. Sementara Delima membersihkan kamar mandi, aku di luar bersama Angga – cowokku – mempelajari materi kimia. Besok akan ada ulangan untuk persiapan semesteran.
“Besok akan ada ulangan kimia Del, kamu sih tadi gak masuk. Kita belajar bareng aja yuk.” kataku.
Delima sejenak melirik jam tangannya. “Udah jam tiga, banyak gak sih catetannya?”
“Lumayan banyak Del.”jawab Angga. Kami saling diam sejenak. Delima sedang berpikir sesuatu. Tiba-tiba dia berkata “Aku mau ke tempat seseorang. Kalian anterin aku ya.”
“Ok lah” jawab Angga.
“Tapi ke mana Delima sayang?” tanyaku meyakinkan.
“Aduh…Fira sayang, udah deh gak usah bawel. Ntar juga sampai kok. Pokokyna ke tempat temen baikku.”
Sejenak aku mengingat-ingat sederet nama temen yang deket dengan Delima. Lara, Linda, Aang, Deni ataukah ketua OSIS? Ah…pikiranku gak nyampek. Delimakan supel, mudah bergaul. Siapa saja di sekolah ini pasti dia kenal.
        Di dalam mobilpun aku masih sempat berpikir. Ataukah Rama? Tapi mana mungkin, merekakan  musuh bebuyutan tujuh turunan - ehm..gak tau deh turunan yang kedelapan - dari SMP.
“Kalian gak pernah kepikiran Rama ya?” kata Delima memecahkan kesunyian.
“Apa? Rama? Tapikan kalian berdua….” Kataku setengah gak percaya dan belum juga selesai mengutarakan pendapatku. Delima keburu memotonganya.
“Selama beberapa hari ini dia baik padaku” kata Delima dengan bibir nyengir-nyengir gitu.
OMG! Aku tahu apa maksudnya ‘baik’ itu. Pasti ini adalah sebuah dari beberapa butir acara balas dendam.
“Eh Del, kamu gak usah ngarang deh. Sejak kapan kalian baikan. Nih ya, aku sebagai sahabatnya Rama aja gak percaya sama kamu. Hahaha” sahut Angga.

Ya…memang betul kata pacarku. Akupun tahu, pasti Delima gak akan membiarkan Rama belajar nanti malem. Ah…kasihan Rama. Tapi, ya salah Rama sendiri sih. Kenapa dari dulu sampai sekarang dia tetep aja hobi ngejailin Delima. Terlebih saat SMP. Entah itu sengaja ataukah enggak, Rama telah berani menyingkap rok Delima dengan penggaris kayu panjang. Jelas saja Delima marah besar padanya – ya, aku masih ingat betul kejadian itu - dan itulah sebabnya mereka jadi bermusuhan sampai detik ini. Delima selalu ingin balas dendam pada Rama.
       Nah, selamat buat kamu Del udah berhasil mendapatkan buku catetannya si Rama.
“Del, apa kamu gak bisa memaafkan Rama?” tanyaku dengan tampang serius.
“Gak!”
“Apa gak ada pengecualian?”
“Ada. Jika dia mau jadi pacarku seumur hidup.” Dag!!!
“Del, sejak kapan kamu serius ngomongin soal pacar?”
“Ini serius, sejak Bu Dina guru BP yang tiap hari nyuruh aku cari pacar. Dengan alasan bisa merubah sikapku biar bisa jadi baik, setidaknya tidak akan telambat lagi.”
“Hmm…ada benernya juga sih Bu Dina.” sahutku.
“Bener apanya?gak paham aku. Emang ada hubungannya ya kelakuanku sama punya pacar?”
“Tentu saja ada. Udahlah, kamu bakal ngrasain sendiri kalau kamu sudah bener-bener cinta sama Rama.” (dialog ini berlangsung di rumahnya Delima. Tepatnya saat aku ngantar Delima dari gerbang sampai masuk di depan pintu rumah).
       Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kelas udah rame. Soalnya hari ini ada ulangan kimia(udah jadi kebiasaan anak zaman sekarang, ogah telat kalo pas ada ulangan saja). Kali ini aku dikejutkan oleh Delima. Tumben banget pagi-pagi udah duduk manis. Dia memamerkan senyuman yang bener-bener lebar banget ke aku. Tapi kubalas senyumnya dengan senyum yang maksa banget.
“Tumben nih tuan putri udah datang.” sapaku.
“Iya donk.” Jawabnya singkat dengan senyum-senyum gak jelas gitu.
Lalu dia menarik tangannya Rama sambil berkata “Rama…duduk sama aku ya.”
Ah…apa lagi ini, mungkinkah gelembung-gelembung cinta Rama telah memenuhi benak Delima. Dan kenapa juga si Rama mau saja dibodohi sama Delima.
       Akhirnya Ramapun duduk di sebelah Delima. Tak lama kemudian, Pak Tarno masuk ke kelasku, menyuruh semua siswa mengumpulkan buku catatan kimia dan menyiapkan selembar kertas untuk LJK. Di saat ulangan seperti ini, suasana kelas sunyi senyap bagaikan suasana kuburan. Pas lagi asyik-asyiknya nulis jawaban nih, tiba-tiba saja nama Rama dipanggil Pak Tarno. Beliau menyuruhnya maju ke depan. “Apa-apaan ini Rama, buku catetan kimia dicampur sama corat-coretan surat cinta!” dengan wajah killernya. Sementar Rama hanya menundukkan kepalanya saja. (Aku paham, ini pasti kerjaanya Delima). Pak Tarnopun menyuruhnya membaca surat cinta itu di depan kelas. “Ayo! Proklamasikan saja cinta kamu.” perintah Pak Tarno. Dengan sedikit gugup – ya jelas saja, pasti saat itu Rama malu banget – dia membaca surat itu. “Ehm…yang tersayang Delima.” Rama berhenti sejenak, matanya menyoroti wajah Delima. Kemudian melanjutkannya lagi sampai selesai. Dan setelah itu, ia kembali duduk.
“Apa maksudmu Ram? Kamu mau buat aku malu?” kata Delima dengan ekspresi marah. Ah, ini membuatku semakin bingung saja.
“Tenang dulu Del. Jangan marah gitu. Kata Angga yang berusaha menenangkan Delima.
Lalu kulanjutkan “Kenapa Del? Bukankah itu yang kamu inginkan?” tanyaku sambil berbisik.
“Bukan! Gini Fir, Ngga… senjata makan tuan. Sebenernya aku tuh ingin buat malu Rama. Padahalkan yang aku tulis bukan namaku sendiri, tapi namanya Sasha. Kan denger-denger Sasha suka sama kamu Rama.”
“Enggak, yang tadi itu beneran Del. Dari lubuk hatiku yang paling dalam Del, aku beneran suka sama kamu.” Tiba-tiba Rama nyahut
Ha? Jadi Rama suka sama Delima. Oh Tuhan. Aku gak nyangka. RencanaMu memang diluar dugaan. Beginikah caraMu menyatukan mereka. Batinku.
“Suka? Tapi aku enggak Ram. Belum bisa!”
“Kasih aku kesempatan Del.” Kata Rama memohon.
“OK. Seminggu.”
“Sebulan Del. Aku janji akan ngeluluhin hatimu.”
“Ok sebulan, tapi awas saja kalo dalam waktu sebulan kamu gak bisa. Jangan harap ada kata maaf dariku.” Huh, kata-kata Delima lebih mirip ancaman daripada persetujuan atas penawaran.
       Baiklah Delima, terserah apa kata mulutmu. Yang jelas aku dan Angga mendukungmu untuk jadian sama Rama. Bagaimana tidak, melihat perjuangan Rama yang pantang menyerah itu, aku yakin Rama bisa merubah sikap burukmu. Perjuangan yang tidak bisa dibilang enteng itu, ya…ternyata Rama sudah suka sama Delima sejak SMP dan itu terus berlanjut sampai sekarang. Hingga ada satu alasan dari Rama yang membuatku tambah kagum padanya, dia masuk ke sekolah ini untuk mengejar cinta Delima. J

1 komentar: