Hari
ini aku pulang terlambat karena menemani Delima, sekalian menjalankan tugas
dari Pak Tarno untuk mengawasinya menjalankan hukuman. Delima terlambat lagi.
Sementara Delima membersihkan kamar mandi, aku di luar bersama Angga – cowokku
– mempelajari materi kimia. Besok akan ada ulangan untuk persiapan semesteran.
“Besok
akan ada ulangan kimia Del, kamu sih tadi gak masuk. Kita belajar bareng aja
yuk.” kataku.
Delima
sejenak melirik jam tangannya. “Udah jam tiga, banyak gak sih catetannya?”
“Lumayan
banyak Del.”jawab Angga. Kami saling diam sejenak. Delima sedang berpikir sesuatu.
Tiba-tiba dia berkata “Aku mau ke tempat seseorang. Kalian anterin aku ya.”
“Ok
lah” jawab Angga.
“Tapi
ke mana Delima sayang?” tanyaku meyakinkan.
“Aduh…Fira
sayang, udah deh gak usah bawel. Ntar juga sampai kok. Pokokyna ke tempat temen
baikku.”
Sejenak
aku mengingat-ingat sederet nama temen yang deket dengan Delima. Lara, Linda,
Aang, Deni ataukah ketua OSIS? Ah…pikiranku gak nyampek. Delimakan supel, mudah
bergaul. Siapa saja di sekolah ini pasti dia kenal.
Di dalam mobilpun aku masih sempat
berpikir. Ataukah Rama? Tapi mana mungkin, merekakan musuh bebuyutan tujuh turunan - ehm..gak tau
deh turunan yang kedelapan - dari SMP.
“Kalian
gak pernah kepikiran Rama ya?” kata Delima memecahkan kesunyian.
“Apa?
Rama? Tapikan kalian berdua….” Kataku setengah gak percaya dan belum juga
selesai mengutarakan pendapatku. Delima keburu memotonganya.
“Selama
beberapa hari ini dia baik padaku” kata Delima dengan bibir nyengir-nyengir
gitu.
OMG!
Aku tahu apa maksudnya ‘baik’ itu. Pasti ini adalah sebuah dari beberapa butir
acara balas dendam.
“Eh
Del, kamu gak usah ngarang deh. Sejak kapan kalian baikan. Nih ya, aku sebagai
sahabatnya Rama aja gak percaya sama kamu. Hahaha” sahut Angga.
Ya…memang
betul kata pacarku. Akupun tahu, pasti Delima gak akan membiarkan Rama belajar
nanti malem. Ah…kasihan Rama. Tapi, ya salah Rama sendiri sih. Kenapa dari dulu
sampai sekarang dia tetep aja hobi ngejailin Delima. Terlebih saat SMP. Entah
itu sengaja ataukah enggak, Rama telah berani menyingkap rok Delima dengan
penggaris kayu panjang. Jelas saja Delima marah besar padanya – ya, aku masih
ingat betul kejadian itu - dan itulah sebabnya mereka jadi bermusuhan sampai
detik ini. Delima selalu ingin balas dendam pada Rama.
Nah, selamat buat kamu Del udah berhasil mendapatkan buku
catetannya si Rama.
“Del, apa kamu gak bisa
memaafkan Rama?” tanyaku dengan tampang serius.
“Gak!”
“Apa gak ada
pengecualian?”
“Ada. Jika
dia mau jadi pacarku seumur hidup.” Dag!!!
“Del, sejak kapan kamu
serius ngomongin soal pacar?”
“Ini serius, sejak Bu Dina
guru BP yang tiap hari nyuruh aku cari pacar. Dengan alasan bisa merubah
sikapku biar bisa jadi baik, setidaknya tidak akan telambat lagi.”
“Hmm…ada benernya juga sih
Bu Dina.” sahutku.
“Bener apanya?gak paham
aku. Emang ada hubungannya ya kelakuanku sama punya pacar?”
“Tentu saja ada. Udahlah,
kamu bakal ngrasain sendiri kalau kamu sudah bener-bener cinta sama Rama.”
(dialog ini berlangsung di rumahnya Delima. Tepatnya saat aku ngantar Delima
dari gerbang sampai masuk di depan pintu rumah).
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kelas udah rame. Soalnya
hari ini ada ulangan kimia(udah jadi kebiasaan anak zaman sekarang, ogah telat
kalo pas ada ulangan saja). Kali ini aku dikejutkan oleh Delima. Tumben banget
pagi-pagi udah duduk manis. Dia memamerkan senyuman yang bener-bener lebar
banget ke aku. Tapi kubalas senyumnya dengan senyum yang maksa banget.
“Tumben nih tuan putri
udah datang.” sapaku.
“Iya donk.” Jawabnya
singkat dengan senyum-senyum gak jelas gitu.
Lalu dia menarik tangannya
Rama sambil berkata “Rama…duduk sama aku ya.”
Ah…apa lagi ini,
mungkinkah gelembung-gelembung cinta Rama telah memenuhi benak Delima. Dan
kenapa juga si Rama mau saja dibodohi sama Delima.
Akhirnya Ramapun duduk di sebelah Delima. Tak lama kemudian,
Pak Tarno masuk ke kelasku, menyuruh semua siswa mengumpulkan buku catatan
kimia dan menyiapkan selembar kertas untuk LJK. Di saat ulangan seperti ini,
suasana kelas sunyi senyap bagaikan suasana kuburan. Pas lagi asyik-asyiknya
nulis jawaban nih, tiba-tiba saja nama Rama dipanggil Pak Tarno. Beliau
menyuruhnya maju ke depan. “Apa-apaan ini Rama, buku catetan kimia dicampur
sama corat-coretan surat cinta!” dengan wajah killernya. Sementar Rama hanya
menundukkan kepalanya saja. (Aku paham, ini pasti kerjaanya Delima). Pak
Tarnopun menyuruhnya membaca surat cinta itu di depan kelas. “Ayo!
Proklamasikan saja cinta kamu.” perintah Pak Tarno. Dengan sedikit gugup – ya
jelas saja, pasti saat itu Rama malu banget – dia membaca surat itu. “Ehm…yang
tersayang Delima.” Rama berhenti sejenak, matanya menyoroti wajah Delima.
Kemudian melanjutkannya lagi sampai selesai. Dan setelah itu, ia kembali duduk.
“Apa maksudmu Ram? Kamu
mau buat aku malu?” kata Delima dengan ekspresi marah. Ah, ini membuatku
semakin bingung saja.
“Tenang dulu Del. Jangan
marah gitu. Kata Angga yang berusaha menenangkan Delima.
Lalu kulanjutkan “Kenapa
Del? Bukankah itu yang kamu inginkan?” tanyaku sambil berbisik.
“Bukan! Gini Fir, Ngga…
senjata makan tuan. Sebenernya aku tuh ingin buat malu Rama. Padahalkan yang
aku tulis bukan namaku sendiri, tapi namanya Sasha. Kan denger-denger Sasha
suka sama kamu Rama.”
“Enggak, yang tadi itu
beneran Del. Dari lubuk hatiku yang paling dalam Del, aku beneran suka sama
kamu.” Tiba-tiba Rama nyahut
Ha? Jadi Rama suka sama Delima. Oh Tuhan. Aku gak nyangka.
RencanaMu memang diluar dugaan. Beginikah caraMu menyatukan mereka. Batinku.
“Suka? Tapi aku enggak
Ram. Belum bisa!”
“Kasih aku kesempatan
Del.” Kata Rama memohon.
“OK. Seminggu.”
“Sebulan Del. Aku janji
akan ngeluluhin hatimu.”
“Ok sebulan, tapi awas
saja kalo dalam waktu sebulan kamu gak bisa. Jangan harap ada kata maaf
dariku.” Huh, kata-kata Delima lebih mirip ancaman daripada persetujuan atas
penawaran.
Baiklah Delima, terserah apa kata mulutmu. Yang jelas aku dan Angga
mendukungmu untuk jadian sama Rama. Bagaimana tidak, melihat perjuangan Rama
yang pantang menyerah itu, aku yakin Rama bisa merubah sikap burukmu.
Perjuangan yang tidak bisa dibilang enteng itu, ya…ternyata Rama sudah suka
sama Delima sejak SMP dan itu terus berlanjut sampai sekarang. Hingga ada satu
alasan dari Rama yang membuatku tambah kagum padanya, dia masuk ke sekolah ini
untuk mengejar cinta Delima. J

delima oh dilema hahaha
BalasHapus